Alasan Exxon Mobil Meninggalkan East Blok Migas Natuna
Dian Ardiansyah Aug 22, 2017 0 Comments

Alasan Exxon Mobil Meninggalkan East Blok Migas Natuna

Jakarta, BisnisPro.id – ExxonMobil, Perusahaan raksasa milik Amerika Serikat ini yang bergerak di bidang Migas menjelaskan alasannya terhadap rencana hengkang di East Blok Migas Natuna, Kepulauan Riau.

Setelah Sebelumnya pada Juli 2017 lalu, ExxonMobil memberikan surat pernyataan kepada pemerintah untuk menyatakan akan hengkang dari East blok migas Natuna.

Erwin Maryoto, selaku Vice President of Public & Government Affair ExxonMobil Indonesia, menjelaskan bahwa pihaknya tidak akan memperpanjang kontrak untuk mengelola East Blok migas di  Natuna bukan dikarenakan terpaan isu skema eksplorasi baru yang diajukan pemerintah, yakni skema gross split, yang sempat menuai keberatan para pelaku industri migas.

“East Natuna itu enggak ada kaitannya dengan iklim investasi, atau gross split, atau cost recovery. Bukan itu,” kata dia dalam paparannya kepada media di Bojonegoro, Jumat (18/8/2017).

Menurut Erwin, hengkangnya ExxonMobil adalah hanya karena hasil dari kajian teknologi dan market untuk eksplorasi di East Natuna kedepannya tidak cukup baik bagi lagi pengelolaan. Hasil penelitian  tersebut merupakan hasilpengamatan bersama antara ExxonMobil dan PT PertaminaEP.

Erwin menambahkan, pihaknya tidak ada pikiran untuk menghambat kepentingan pemerintah jika ingin memanfaatkan East Blok Migas Natuna. “Apakah Pertamina yang akan lanjutkan eksplorasi di East Natuna, ya Pertamina yang bisa jawab,” pungkasnya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Migas Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) I Gusti Nyoman Wiratmaja mengungkapkan bahwa pemerintah telah menerima surat dari Exxon Mobil terkait kejelasan investasi di Blok Minyak dan gas (Migas) East Natuna.

“Kami sedang bahas secara internal. Izin pengelolaan wilayah kerja (WK) sudah habis masa berlakunya. Exxon bilang saat ini tidak ekonomis dengan term yang ada,” kata Wiratmaja di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (18/7/2017).

Menurutnya, dalam surat itu ExxonMobil menunjukan sikap tak akan lagi melanjutkan investasi di East blok Migas Natuna, di tengah habisnya izin pengelolaan WK yang digarap ExxonMobil selama ini. “Jadi dari kalkulasinya Exxon (mundur). Ya begitu isinya,” kata Wiratmaja.

Namun, ExxonMobil tetap berkomitmen siap membantu Indonesia terkait eksplorasi migas di wilayah tersebut jika dibutuhkan, dengan teknologi yang dimiliki ExxonMobil.

Hengkangnya ExxonMobil di Natuna akan sangat menguntungkan bagi negara khususnya PT PERTAMINA, ujar Kurtubi, anggota Komisi VII DPR yang membidangi energi.

pernyataan tersebut bukan main-main dikarenakan East blok migas Natuna yang memiliki kandungan migas empat kali lipat dari blok Mahakam tersebut dapat dikelola sepenuhnya oleh Pertamina selaku perusahaan BUMN.

Kurtubi mengatakan, tidak ada ruginya dari hengkangnya ExxonMobil dari Natuna. Sebab, Pertamina bisa mencari partner lain yang bisa diajak kerja sama dalam mengelola blok tersebut.

Walaupun menurutnya, kerja sama ExxonMobil dan Pertamina di East Natuna tersebut hanya sebatas pemisahan CO2 dari Metan.

Leave a Reply

Leave a facebook comment