Pengusaha: Pembayaran Kartu Debet dan Kredit Aman
Dian Ardiansyah Sep 14, 2017 0 Comments

Pengusaha: Pembayaran Kartu Debet dan Kredit Aman

Jakarta, BisnisPro.Id – Asosiasi Pengusaha ritel Indonesia (Aprindo) menjamin bahwa pembayaran melalui kartu kredit atau debet di gerai anggota itu aman dan dipastikan tidak ada penyalahgunaan data pribadi nasabah.

“Kami pastikan bahwa pembayaran kartu kredit atau debet di gerai anggota kami aman,” ujar Ketua Umum Aprindo Roy Mandey, memberikan tanggapan atas seringnya pemberitaan tentang larangan pembayaran gesek ganda (double swipe) oleh Bank Indonesia di gerai ritel modern.

Menurutnya, data pribadi transaksi ritel modern terintegrasi dengan pusat dan tersimpan dengan baik di server komputer masing-masing otoritas.

“Hingga kini metode pembayaran di ritel modern secara garis besar ada dua yakni gesek kartu di mesin Electronic Data Capture (EDC) untuk pembayaran dan kasir melakukan input no kartu kredit/debet di mesin kasir. Proses ini dilakukan untuk memvalidasi transaksi penjualan,” ungkap Roy.

Kedua, kegiatan menggesek kartu di mesin EDC namun kasir tidak lagi melakukan input apa pun. Metode pembayaran mengacu pada kebijakan masing-masing perusahaan ritel tetapi dipastikan metode pembayaran tersebut tidak melanggar ketentuan hukum. Pihaknya sangat berharap Bank Indonesia dan atau pihak bank segera melakukan sosialisasi Peraturan BI No. 18/40/PBI/2016 kepada masyarakat dan pelaku ritel yang menggunakan EDC dan mesin kasir.

Menanggapi regulasi itu, dirinya menegaskan bahwa pihaknya sangat mendukung terkait kebijakan Bank Indonesia tentang larangan pembayaran “double swipe” kartu kredit/debit di gerai ritel moden.

“Demi keamanan dan kenyamanan konsumen, Aprindo pastikan gerai-gerai ritel modern yang ada di bawah Aprindo tidak melakukan ‘double swipe‘ kepada konsumen yang hendak membayar menggunakan kartu debet atau kartu kredit,” tambahnya.

Tumbuh melambat

Berbicara kinerja bisnis ritel Indonesia, dia berpandangan bahwa pertumbuhan ritel pada semester I/2017 hanya 3,7 persen dan diharapkan menigkat menjadi 8-9 persen di akhir tahun ini.

“Meski kami menyebutnya sebagai kondisi tetap tumbuh namun melambat,” ujarnya.

Aprindo secara keseluruhan bersikap optimis karena secara eksternal situasi dan kondisinya termasuk kondusif seperti pemerintah sudah mengamankan kebijakan energi (tidak ada kenaikan listrik dll) sampai akhir tahun, BI rate yang menurun, adanya Satgas Investasi pada paket kebijakan ekonomi XVI, pencairan dana dana pusat mulai dari DAU (dana alokasi umum) dan dana desa dan lainnya.

“Namun, meski optimis kami tetap melakukan dua hal utama yakni efisiensi khususnya dari sektor penggunaan energi dan peningkatan pelayanan secara menyeluruh,” katanya.

Bank Indonesia (BI) memaparkan bahwa pertumbuhan jumlah transaksi nontunai untuk berbelanja hingga Juli sebanyak 19,51% year on year (yoy) dengan rata-rata volume transaksi menjadi 40,76 juta transaksi dari tahun sebelumnya 34,10 juta transaksi setiap bulannya.

Sedangkan dari sisi nilai transaksi belanja secara nontunai tumbuh 13,12% yoy dari rata-rata transaksi belanja bulanan pada 2016 senilai Rp20,24 triliun menjadi Rp22,90 triliun di tahun ini. Hal ini didorong oleh pertumbuhan kartu debit maupun kartu kredit serta pemahaman pembayaran nontunai lebih praktis dan aman jika dibandingkan dengan tunai.

Terkait dengan dilarangnya double swip, para pelaku perbankan menyatakan, pada dasarnya merchant tidak boleh melakukan penggesekan kartu sebanyak dua kali seperti itu. Pasalnya, ada beragam risiko yang disebabkan dari praktik penggesekan.

“Data-data di kartu secara aturan tidak boleh disimpan oleh pihakmerchant,” kata Direktur Digital & Technology PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Rico Usthavia Frans.

Rico mengungkapkan bahwa, penyimpanan data dalam kartu oleh merchant tersebut rawan penyalahgunaan. Data-data tersebut bisa digunakan sebagai dasar pembuatan kartu palsu atau dimanfaatkan dalam tindak kejahatan online.

Leave a Reply

Leave a facebook comment