Harga Minyak Mentah Global Capai Level US$68 per Barel
Dian Ardiansyah Jan 5, 2018 0 Comments

Harga Minyak Mentah Global Capai Level US$68 per Barel

Jakarta, BisnisPro.Id – Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 38 sen menjadi US$62,01 per barel di New York Mercantile Exchange (NYMX). Sementara itu, harga minyak mentah Brent meningkat 23 sen menjadi US$68,07 per barel.

Demikian dilaporkan Reuters dan CNBC di New York, Kamis (04/01/2018) petang, atau Jumat (05/01/2018) dini hari WIB.

Posisi harga kedua minyak mentah tersebut adalah yang terbaik sejak Desember 2014 serta merupakan tingkat intraday harga tertinggi sejak Mei 2015.

Ada tiga faktor yang mengakibatkan kenaikan harga minyak saat ini, yaitu tertekannya pasokan minyak ke pasar global akibat pemangkasan produksi yang dilakukan OPEC dan kerusuhan yang terjadi di Iran serta peningkatan permintaan akibat cuaca dingin yang melanda Amerika Serikat (AS) saat ini.

Pemangkasan produksi yang dilakukan OPEC dan didukung oleh Rusia serta berbagai negara non-anggota OPEC lainnya bertujuan untuk mengurangi pasokan minyak ke pasar global. Tujuannya adalah untuk menghilangkan stabilitas pasokan minyak global yang telah terjadi dalam dua tahun terakhir ini.

Pemangkasan pasokan tersebut telah dimulai sejak tahun lalu dengan tingkat kepatuhan para anggota OPEC yang cukup tinggi. Apalagi gagasan tersebut didukung oleh penurunan produksi minyak Venezuela yang saat ini mengalami ketidakstabilan ekonomi serta munculnya gejolak yang terjadi di Nigeria dan Libya.

Disamping itu, para produsen minyak mentah global, baik yang tergabung dalam OPEC maupun non-OPEC, memutuskan untuk memperpanjang pemangkasan produksi minyak mentah tersebut hingga akhir 2018 ini.

Gerakan anti-pemerintah yang terjadi di Iran, produsen minyak terbesar ketiga OPEC, sejak pekan lalu turut meningkatkan risiko geopolitik yang berdampak terhadap kenaikan harga minyak, kendati produksi dan ekspor minyak Iran saat ini belum terpengaruh.

Setelah terjadi demostrasi selama enam hari, Korps Garda Revolusi pada Rabu (03/01/2017) telah mengerahkan pasukan untuk memadamkan berbagai kerusuhan di tiga provinsi yang menjadi pusat terjadinya konflik.

Sementara itu, analis JBC Energy menilai, kenaikan harga minyak yang dihubungkan dengan kerusuhan yang terjadi di Iran terlalu berlebihan. Pasalnya, menurut Badan Informasi Energi AS (EIA), kenaikan itu disebabkan penurunan cadangan minyak AS sebanyak 7,4 juta barel hingga 29 Desember 2017.

Sementara itu, S&P Global Platts memperkirakan cadangan minyak mentah AS akan turun hingga 5,7 juta barel. Itu karena cuaca dingin yang terjadi di AS mendorong peningkatan permintaan minyak pemanas untuk jangka pendek.

Kendati cadangan minyak mentah AS turun, tetapi persediaan bensin naik 4,8 juta barel dan cadangan bahan bakar minyak (BBM) naik 8,9 juta barel. Itu karena kegiatan penyulingan minyak mentah menjadi BBM meningkat menjelang akhir 2017 lalu. (AS)

Leave a Reply

Leave a facebook comment