Pasar Modal Indonesia Perlu Kesatuan Pemahaman tentang Investasi Berkelanjutan

Dian Ardiansyah Dec 8, 2017 0 Comments
Pasar Modal Indonesia Perlu Kesatuan Pemahaman tentang Investasi Berkelanjutan

Jakarta, BisnisPro.Id – Indeks investasi berkelanjutan telah berkembang pesat sebagai acuan investasi di pasar modal secara global. Sedangkan untuk pasar modal Indonesia, Index Sustainable and Responsible (SRI)-KEHATI adalah satu-satunya bentuk green index di Indonesia.

Indeks itu diluncurkan pada Juni 2009 oleh Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI).

“Kendati sudah memiliki Sustainable and Responsible Index (SRI) KEHATI tersebut, namun hingga kini, pemangku kepentingan pasar modal Indonesia masih kurang menyadari dan memahami sustainable finance and investment,” ungkap M.S. Sembiring, Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI, di Jakarta, Jumat (08/12/2017).

Karena itu, demikian M.S. Sembiring, perlu ada kesatuan pemahaman terhadap istilah invetasi berkelanjutan, seperti green index, sustainable and responsible investment index, socially responsible investment index, dan sebagainya.

M.S. Sembiring mengemukakan, untuk menyatukan pemahaman tersebut, dukungan para pemangku kepentingan pasar modal sangat diperlukan. Pasalnya, pemahaman tersebut nantinya akan dijadikan sebagai pedoman investor untuk berinvestasi di berbagai sektor terutama pasar modal.

“Dukungan yang bisa dilakukan berupa membangun kesadaran dan pemahaman mengenai keuangan dan investasi berkelanjutan, membuat referensi indeks dengan istilah dan pemahaman yang disepakati oleh seluruh pemangku kepentingan, serta adanya standar pelaporan emiten terkait laporan berkelanjutan,” papar Sembiring.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri sebenarnya telah mengambil langkah dengan meluncurkan berbagai kebijakan untuk mewujudkan keuangan dan pasar modal yang berkelanjutan di Indonesia, seperti POJK No. 51 /POJK.03/2017 tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan Bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten dan Perusahaan Publik.

Selain itu, juga telah dikeluarkan RPOJK tentang Penerbitan dan Persyaratan Efek Bersifat Utang Berwawasan Lingkungan (Green Bond), rencana pembentukan Green Index, serta menyusun ASEAN Green Bond Standard.

OJK juga meluncurkan Peta Jalan Keuangan Berkelanjutan pada Desember 2014. Peta Jalan tersebut sebagai panduan pembangunan keuangan dan pasar modal Indonesia.

“Peta Jalan Keuangan Berkelanjutan 2014 yang dikeluarkan oleh OJK dan kaidah-kaidah Sustainable Development Goals (SDG’s) bisa menjadi acuan bagi para pelaku menghadapi perkembangan investasi berkelanjutan  di Indonesia,” ujar Sembiring.

Lebih lanjut Sembiring, mengatakan, sejak diluncurkan delapan tahun silam, Indeks SRI-KEHATI memiliki kinerjan yang konsisten dan selalu unggul dibanding indeks lain yang ada di bursa, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Indeks LQ45.

Hingga kini telah ada beberapa manajer investasi yang menggunakan Indeks SRI-KEHATI sebagai basis portfolio investasi reksadana yang mereka kelola. Mereka adalah Premier ETF SRI-KEHATI (XISR) yang merupakan produk Indo Premier Investment Management dan RHB SRI-KEHATI Index Fund, yaitu produk yang dikeluarkan oleh RHB Asset Management Indonesia.

Sementara itu, ada beberapa manajer investasi yang sedang dalam tahap penyelesaian akhir untuk meluncurkan produk reksa dana serupa.

Secara global, peningkatan investasi yang cukup tajam dalam aset yang menganut prinsip-prinsip berkelanjutan atau sustainable financing pun telah terjadi. Diantaranya adalah Principles for Responsible Investment (PRI).

Nilai investasi PRI tersebut mengalami peningkatan yang signifikan, yaitu dari sebesar US$6,5 triliun pada 2006 telah melonjak menjadi US$68 triliun per April 2017. (AS)

Leave a Reply

Leave a facebook comment

Kurs Hari Ini

Update Covid-19 Hari Ini

Banner Ads