Rupiah Versus Dolar AS Hari Ini, Kamis 30 November 2023

Muhammad Kemal Farezy Nov 30, 2023 0 Comments
Rupiah Versus Dolar AS Hari Ini, Kamis 30 November 2023

Tangerang, BisnisPro.id – Mengawali perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah tercatat mengalami pelemahan sebesar 0,49% atau 75 poin, mencapai Rp15.470 per dolar AS. Penurunan ini terjadi sebagai respons terhadap laporan data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pada kuartal III/2023.

Hari ini, nilai tukar rupiah terbuka dengan lesu, seiring dengan pelemahan mayoritas mata uang Asia, yang dipicu oleh hasil pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal III/2023 yang melampaui perkiraan. Data dari Bloomberg pada Kamis (30/11/2023) pukul 09.02 WIB menunjukkan bahwa rupiah melemah 0,49% atau 75 poin menjadi Rp15.470 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap mata uang utama, menguat 0,07% atau 0,08 poin mencapai 102,85.

Beberapa mata uang Asia juga mengalami pelemahan, seperti dolar Taiwan yang melemah 0,31%, won Korea Selatan yang tergelincir 0,14%, ringgit Malaysia yang cenderung mendatar 0,0%, dan yuan China yang turun 0,09%. Di sisi lain, yen Jepang menguat 0,11%, dan dolar Singapura juga mengalami kenaikan sebesar 0,05% pada pagi ini.

Data estimasi kedua dari Biro Analisis Ekonomi AS, yang dirilis pada Rabu (29/11/2023), menunjukkan bahwa ekonomi Amerika Serikat tumbuh sebesar 5,2% secara tahunan pada kuartal III-2023. Angka ini melampaui perkiraan sebelumnya yang sebesar 4,9% dan proyeksi para analis yang mencapai 5%.

Selain memperhatikan tingkat inflasi, pertumbuhan ekonomi memegang peran penting sebagai salah satu pertimbangan utama bagi Bank Sentral AS, atau The Fed, dalam merumuskan kebijakan suku bunga. Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, menyampaikan pandangannya bahwa pejabat-pejabat di The Fed menilai pentingnya kehati-hatian dalam menjaga tingkat suku bunga. Mereka cenderung mempertimbangkan untuk melonggarkan kebijakan suku bunga seiring dengan penurunan tingkat inflasi.

Assuaibi menyoroti pentingnya koordinasi antara kebijakan suku bunga dan langkah-langkah untuk menangani inflasi. Menurutnya, situasi di mana inflasi menurun bisa menjadi dasar bagi bank sentral untuk mengambil tindakan longgar terkait suku bunga guna mendukung pertumbuhan ekonomi.

Pendekatan ini mencerminkan kesadaran The Fed terhadap keseimbangan yang diperlukan antara menjaga stabilitas harga melalui pengendalian inflasi dan merangsang pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan suku bunga yang tepat. Dalam konteks ini, kebijakan moneter menjadi instrumen kunci bagi bank sentral dalam menjawab dinamika ekonomi yang berubah.

Dengan adanya situasi tersebut, dimana tekanan harga terus mengalami penurunan, terbuka peluang bagi bank sentral AS untuk menurunkan tingkat suku bunga. Penurunan tekanan harga dapat memberikan ruang bagi bank sentral untuk mengambil langkah-langkah kebijakan moneter yang lebih akomodatif guna merangsang pertumbuhan ekonomi.

Kondisi di mana tekanan harga mengalami penurunan lebih lanjut seringkali dianggap sebagai indikasi bahwa risiko deflasi atau pertumbuhan ekonomi yang melambat dapat muncul. Dalam menghadapi risiko-risiko tersebut, penurunan suku bunga dapat menjadi salah satu instrumen yang digunakan oleh bank sentral untuk meningkatkan aktivitas ekonomi, mendorong investasi, dan memicu konsumsi.

Langkah-langkah kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi melalui penyesuaian suku bunga juga merupakan upaya bank sentral untuk menjaga stabilitas ekonomi secara keseluruhan. Oleh karena itu, keputusan terkait tingkat suku bunga tidak hanya dipengaruhi oleh tekanan inflasi, tetapi juga oleh dinamika pertumbuhan ekonomi serta perubahan kondisi ekonomi global.

“Para pedagang memperkirakan setidaknya 40% kemungkinan bahwa The Fed akan menurunkan suku bunganya paling lambat pada Maret 2024, dan bank sentral akan mempertahankan suku bunga pada Desember,” tulisnya dalam riset harian, dikutip Kamis (30/11/2023).

Ibrahim menambahkan bahwa prospek pergeseran sikap hawkish dari pihak The Federal Reserve telah mendorong kenaikan yang signifikan pada harga komoditas emas sepanjang bulan November. Terlebih lagi, diperkirakan bahwa nilai logam mulia ini akan mengalami peningkatan lebih dari 3% selama periode tersebut.

Dari perspektif internal, utang pemerintah Indonesia mengalami peningkatan kembali dan mencapai level sebesar Rp7.950,52 triliun pada bulan Oktober 2023. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar Rp58,6 triliun jika dibandingkan dengan periode September 2023 (month-to-month/mtm) yang tercatat sebesar Rp7.891,61 triliun. Informasi ini diambil dari buku APBN Kita Edisi November 2023.

Berdasarkan data tersebut, rasio utang pemerintah pada bulan Oktober 2023 mencapai 37,68% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Meskipun terdapat peningkatan nilai utang, rasio utang pada bulan Oktober 2023 ternyata lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 37,95% terhadap PDB.

Leave a Reply

Leave a facebook comment

Kurs Hari Ini

Update Covid-19 Hari Ini

Banner Ads